“Ai Rin aa
~”, appaku memanggil sambil tetap fokus memanggang daging di atas perapian.
“Pekan depan kau ada waktu kosong ?” dia melanjutkan pertanyaannya.
Aku
menghentikan aktivitasku yang akan memasukkan daging ke dalam mulut dan
menjawab pertanyaan appa, “Hmm, sepertinya aku tidak ada agenda. Memangnya
kenapa appa ?” kali ini aku yang balik bertanya.
“Teman
lama appa mengundang untuk datang ke rumahnya dan sekaligus memintamu untuk
ikut. Apa kau mau ?” appa masih berdiri membelakangiku.
“Memang
rumahnya di mana ?”
“Di
Busan, jadi nanti kita akan menginap di sana”, kali ini appa menghampiriku
membawa sepiring penuh daging yang sudah matang. Air liurku hampir saja
menetes.
“Apa ?
Busan ?” kini fokusku beralih pada appa yang sedang memotong daging menjadi
potongan yang sesuai untuk masuk ke mulut.
“Eung…dan
kau tahu teman appa itu memiliki seorang anak laki-laki, siapa tahu kalian
cocok”, kali ini mataku membulat mendengar perkataan appa. Jangan bilang padaku
ini perjodohan.
“Kau tahu
Ai Rin aa~ appa ini sudah tua dan sangat ingin menimang cucu”, kali ini
perkataan appa sempurna membuat daging yang kutelan tersangkut di kerongkongan.
Aku terbatuk-batuk, mukaku merah seperti kepiting rebus.
Appa mengulurkan
segelas air putih,”Aigoo gadis ini tetap saja seperti gadis kecilku”, kali ini
dia menepuk-nepuk pundakku lembut.
Setelah
aku tenang, aku kembali bertanya,”Kita akan menginap berapa hari di sana ?”
“Kau ini,
dari tadi bertanya terus. Kita akan menginap tiga hari. Jadi persiapkan dirimu,
arasseo ?”
“Tapi,
appa…aku kan belum mengiyakan akan ikut denganmu”, aku memasang muka cemberut.
Aku masih tidak rela kalau ternyata ini salah satu modus appa untuk
menjodohkanku. Usiaku masih 25 tahun dan aku belum ingin direpotkan dengan
perjodohan atau sejenisnya. Aku bukannya tidak tertarik untuk menjalin hubungan
dengan pria, tetapi aku sedang fokus pada karir kepenulisanku.
“Sudahlah,
ini pasti menyenangkan. Di mana lagi tempat yang paling menyenangkan untuk
menikmati musim panas kalau bukan di Busan”, appa menjelaskan panjang lebar,
tapi tetap saja aku tidak tertarik. “Sekarang, cepat selesaikan makanmu !”
Aku hanya
mengangguk pasrah,berharap tidak akan terjadi hal-hal aneh karena firasatku
tidak enak. Semoga tiga hari itu waktu yang singkat.
No comments:
Post a Comment