Wednesday, March 4, 2015

Always be with You [Part 3]



            Sudah sebulan Ha Na menjadi psikiater untuk MBLAQ, tetapi diantara mereka bertiga Seung Holah orang yang paling sulit untuk membuka diri, padahal kalau Ha Na perhatikan dari sikap dia selama ini, Seung Holah yang paling mengalami stress terkait apa yang terjadi dengan MBLAQ.
                Ha Na teringat percakapannya dengan Seung Ho saat sesi konsultasi, “Jwaesongeyo Ha Na ssi, tapi aku tipe yang tidak mudah bercerita dengan orang yang baru aku kenal.” Saat itu Ha Na hanya bisa memberikan senyuman dan mengatakan tidak masalah, dia akan menunggu kalau Seung Ho sudah siap.
                Ha Na merenggangkan tubuhnya, mengusir kantuk yang sudah menyerangnya sejak tadi. Ha Na melihat jam dinding, sudah pukul dua dini hari dan dia belum tidur karena harus menyelesaikan laporan yang harus diserahkan pagi ini.
                Tiba-tiba ponselnya berdering, Ha Na menghentikan aktivitas merenggangkan tubuh. Ditatapnya layar ponsel, sedetik kemudian, dahinya berkerut-Yang Seung Ho itu nama yang ditampilkan layar ponselnya. Buru-buru Ha Na mengangkat teleponnya,”Yeoboseyo Seung  Ho ssi ? Museun iriyeyo ?”
                Sedetik..dua detik…lima detik, tak ada jawaban dari suara di seberang. “Seung Ho ssi ? Gwaenchanayo ?” Ha Na mulai berpikir Untuk apa dia menghubungiku di jam segini ? Apa sebegitu pentingnya ?
                “Ha Na ssi..”, akhirnya terdengar suara Seung Ho, tapi suaranya tidak terlalu jelas, seperti orang mengantuk atau baru bangun tidur. Ha Na, diam menunggu kelanjutannya. “Aku…aku sedang sedih..hik.hik..maukah kau datang kepadaku..hikhik.”
                Mendengar suara Seung Ho seperti itu, terlintas sesuatu di pikiran Ha Na, “Seung Ho ssi, apa kau mabuk ? Kau ada di mana sekarang ?” tetapi suara Ha Na hanya dibalas kebisuan. “Yeoboseyo ? Seung Ho ssi ? Yeoboseyo ?” Mengapa di saat seperti ini dia menghubungiku ? Hhhh. Ha Na menarik nafas panjang, berharap Seung  Ho membalasnya.
                “Agassi,sepertinya orang yang Anda ajak bicara sedang mabuk berat”, kali ini terdengar suara asing di telinga Ha Na.
                “Ano, sekarang dia ada di mana. Maukah Anda memberikan alamatnya dengan jelas ?” Ha Na menanyakan detail tempat Seung Ho berada. Setelah mendapat alamat yang jelas, Ha Na segera mengambil mantel dan kunci mobilnya.
                Ha Na tiba di sebuah klub di pusat kota Seoul, dengan sedikit risih Ha Na melangkahkan kaki memasuki klub tersebut. Suasana di dalam klub sangat ramai, alunan musik terdengar menghentak hentak, beberapa orang hanyut dalam suasananya. Ha Na memfokuskan matanya, mengitari tempat itu, mencari sosok Seung Ho, akhirnya Ha Na memutuskan untuk menghampiri meja bartender dan di sanalah dia menemukan sosok yang sedang memegang gelas minumannya. Buru buru Ha Na merebut gelas yang sudah hampir menyentuh bibir Seung Ho.
                “Kau harus berhenti minum !” suara Ha Na berteriak untuk menyaingi suara musik. Seung Ho menatap Ha Na dengan tatapan lasernya, tetapi beberapa detik kemudian tatapan itu berubah.
                “Ha Na ya~ Annyeong~”, kali ini Seung Ho melakukannya dengan aegyo. “Kau tahu Ha Na ya~ oppa sangat sedih..hik..hik..Mengapa kau baru datang ?”
                Ha Na sejenak mengabaikan Seung Ho, dia bertanya kepada bartender yang ada di hadapannya, “Sudah berapa banyak dia minum ?”
                Bartender itu menggerakkan kepalanya, menunjuk tiga botol yang sudah kosong di samping Seung Ho. Kau akan mati setelah ini Yang Seung Ho ! Ha Na mengepalkan tangannya, menahan kekesalan.
                Setelah berhasil memasukkan Seung Ho ke dalam mobilnya dengan bantuan dari bartender, Ha Na mengambil ponsel dari saku matelnya, mencoba menghubungi manajer MBLAQ, tetapi tidak ada jawaban, begitu juga dengan ponsel Byung Hee dan Cheol Yong. Apa yang mereka lakukan saat seperti ini ? Mengapa tidak mengangkat teleponku ? Ha Na mencoba sekali lagi menghubungi mereka, tetapi tidak ada hasilnya. Akhirnya dengan frustasi Ha Na mengemudikan mobil menuju apartemennya.
                Sesampainya di parkiran apartemen, sama sekali tidak ada orang yang dapat membantunya memapah Seung Ho, tentu saja ini pukul tiga dini hari. Mau tak mau dengan susah payah Ha Na memapah tubuh Seung Ho yang tentunya lebih besar daripada dirinya. “Aargh namja ini ! Benar-benar seperti panda !” Ha Na mendengus kesal.
                Ha Na menghempaskan tubuh gempal Seung Ho ke sofa di apartemennya, dia sendiri langsung menuju kulkas dan meminum segelas air putih. Ha Na dapat samar-samar mendengar Seung Ho menggumamkan sesuatu. Ha Na duduk bersila di karpet dekat sofa tempat Seung Ho berbaring dan mulai dari sanalah Ha Na mengetahui apa yang selama ini dipendam Seung Ho sebagai seorang leader.
                Sebegitu tidak bisanya kah kau membagi bebanmu dengan orang lain ? dan hanya memendamnya sendirian ? Mata Ha Na masih menatap lekat namja di hadapannya yang kini tertidur lelap. Diperhatikannya namja itu, membuat Ha Na tersenyum terlebih lagi dark circle yang membuat Seung Ho benar benar mirip panda. Ha Na kembali menguap, ini sudah yang ketiga kalinya, dia pun menuju kamarnya .
                Seung Ho perlahan membuka matanya, tubuhnya terasa sangat lelah. Dia mengerjapkan mata berkali kali, mecoba meraih kesadarannya. Setelah sepenuhnya sadar, dia melihat ruangan tempat dia berada. Merasa asing dengan tempat itu, Seung Ho pun bangkit berdiri dan menyadari ada sesuatu di dahinya. Dia meraih sticky notes yang menempel di dahinya.
                Maaf aku pergi, tidak akan lama. Kalau sudah bangun minumlah segelas madu dan air hangat agar kau merasa lebih baik. Aku akan segera kembali !
Ha Na
                Membaca notes itu tanpa sadar Seung Ho tersenyum dan mengertilah sekarang di mana dirinya berada. Samar-samar Seung Ho mengingat apa yang terjadi semalam. Dia mengutuk dirinya sendiri. Buru-buru Seung Ho mencari ponselnya hendak menghubungi manajer hyeong, tapi batere ponselnya habis. Lalu Seung Ho melangkahkan kakinya menuju pintu, dia akan pergi, tetapi kemudian diurungkannya, dia tidak tahu apa yang akan terjadi kalau ada yang mengenalinya. Akhirnya dia kembali duduk di sofa.
                Bosan tidak melakukan apa-apa, Seung Ho bangkit dari duduknya, menuju sebuah rak buku yang ada di sudut ruangan. Dia mengambil sembarang buku dari rak itu yang tentunya sebagian besar tentang psikologi manusia. Di sisi lain rak terdapat beberapa majalah yang masih baru, Seung Ho mengambil salah satunya. “Dia sempat juga membaca yang seperti ini”, Seung Ho bergumam sendiri.
                Dia membuka lembaran pertama majalah dan tertulis “MBLAQ benarkah akan bubar ?” Seung Ho langsung mengembalikannya kembali ke rak buku, dia jadi kehilangan minat bacanya. Sebuah foto yang terpajang rapi di dekat televisi menarik perhatian Seung Ho, salah satunya foto seorang gadis kecil yang mengenakan dress merah muda. Entah ini efek dari mabuknya semalam yang belum hilang sehingga membuatnya berhalusinasi atau apa, tetapi yang jelas foto gadis kecil itu terasa tidak asing bagi Seung Ho, seakan mereka pernah bertemu sebelumnya.
                Saat pikiran Seung Ho berusaha mengingat gadis kecil itu, terdengar suara pintu dibuka, Seung Ho langsung kembali duduk di sofa.  “Aaah, dinginnya”, terdengar suara Ha Na.
                “Ooo…Seung Ho ssi kau sudah bangun ?”Ha Na tersenyum melihat Seung Ho sudah duduk manis di sofa. “Apa kau sudah minum madu dan air hangat ? Itu sangat bagus untuk meredakan mabuk.” Seung Ho hanya menggelengkan kepalanya menjawab pertanyaan Ha Na.
                Kini mereka berdua duduk berhadapan, di depan mereka sudah ada dua gelas madu dengan air hangat. “Ha Na ssi…”, Seung Ho menggantung kalimatnya, bingung harus memulai dari mana. “Eeemmm…untuk yang terjadi  semalam, sebaiknya kau lupakan saja.”
                Ha Na membulatkan matanya, tidak percaya dengan apa yang dikatakan Seung Ho.  Bagaimana mungkin aku bisa melupakannya dengan mudah. Aah dia ini !  Ha Na tidak menanggapi perkataan Seung Ho, dia meminum madu hangatnya.
                “Apa pun yang aku lakukan semalam, aku minta maaf dan terima kasih sudah menolongku,” Seung Ho berdiri dan berniat meninggalkan Ha Na yang masih terdiam dalam duduknya.
                Kemudian suara Ha Na menghentikan langkah Seung Ho, “Apa kau perlu mabuk dulu untuk menghubungiku dan menceritakan apa yang kau rasakan !” kali ini Ha Na sudah berdiri di belakang Seung Ho.
               “Seung Ho ssi…”, suara Ha Na melunak, “Apa pun yang kau rasakan, kau bisa sedikit  membaginya dengan orang lain. Aku yakin itu akan membuat perasaan menjadi lebih baik, tidak peduli pada akhirnya akan memberikan solusi atau tidak, setidaknya kau tidak sendirian. Akan ada yang menemanimu untuk menghadapinya.”
                Seung Ho tersenyum mendengar perkataan Ha Na, dia  merasa mungkin tidak ada salahnya mempercayai gadis di hadapannya. Dia juga tidak tahu, kenapa semalam gadis ini yang dihubunginya, entah ini hanya sebuah kebetulan atau ada takdir lain yang akan menjelaskannya. “Gamsahamnida, Ha Na ssi.”
                Ha Na pun tersenyum mendengar ucapan terima kasih Seung Ho, “Kurasa ucapan terima kasih saja tidak cukup, agensimu harus membayarku lebih untuk yang semalam. Akan aku kirimkan tagihannya nanti,” Ha Na membercandai Seung Ho dan mereka pun tersenyum bersama.
               

No comments:

Post a Comment