Sudah sebulan Ha Na menjadi psikiater untuk
MBLAQ, tetapi diantara mereka bertiga Seung Holah orang yang paling sulit untuk
membuka diri, padahal kalau Ha Na perhatikan dari sikap dia selama ini, Seung Holah
yang paling mengalami stress terkait apa yang terjadi dengan MBLAQ.
Ha
Na teringat percakapannya dengan Seung Ho saat sesi konsultasi, “Jwaesongeyo Ha
Na ssi, tapi aku tipe yang tidak mudah bercerita dengan orang yang baru aku
kenal.” Saat itu Ha Na hanya bisa memberikan senyuman dan mengatakan tidak
masalah, dia akan menunggu kalau Seung Ho sudah siap.
Ha
Na merenggangkan tubuhnya, mengusir kantuk yang sudah menyerangnya sejak tadi. Ha
Na melihat jam dinding, sudah pukul dua dini hari dan dia belum tidur karena
harus menyelesaikan laporan yang harus diserahkan pagi ini.
Tiba-tiba
ponselnya berdering, Ha Na menghentikan aktivitas merenggangkan tubuh. Ditatapnya
layar ponsel, sedetik kemudian, dahinya berkerut-Yang Seung Ho itu nama yang
ditampilkan layar ponselnya. Buru-buru Ha Na mengangkat teleponnya,”Yeoboseyo
Seung Ho ssi ? Museun iriyeyo ?”
Sedetik..dua
detik…lima detik, tak ada jawaban dari suara di seberang. “Seung Ho ssi ?
Gwaenchanayo ?” Ha Na mulai berpikir Untuk
apa dia menghubungiku di jam segini ? Apa sebegitu pentingnya ?
“Ha
Na ssi..”, akhirnya terdengar suara Seung Ho, tapi suaranya tidak terlalu
jelas, seperti orang mengantuk atau baru bangun tidur. Ha Na, diam menunggu
kelanjutannya. “Aku…aku sedang sedih..hik.hik..maukah kau datang
kepadaku..hikhik.”
Mendengar
suara Seung Ho seperti itu, terlintas sesuatu di pikiran Ha Na, “Seung Ho ssi,
apa kau mabuk ? Kau ada di mana sekarang ?” tetapi suara Ha Na hanya dibalas
kebisuan. “Yeoboseyo ? Seung Ho ssi ? Yeoboseyo ?” Mengapa di saat seperti ini dia menghubungiku ? Hhhh. Ha Na menarik
nafas panjang, berharap Seung Ho
membalasnya.
“Agassi,sepertinya
orang yang Anda ajak bicara sedang mabuk berat”, kali ini terdengar suara asing
di telinga Ha Na.
“Ano,
sekarang dia ada di mana. Maukah Anda memberikan alamatnya dengan jelas ?” Ha
Na menanyakan detail tempat Seung Ho berada. Setelah mendapat alamat yang
jelas, Ha Na segera mengambil mantel dan kunci mobilnya.
Ha
Na tiba di sebuah klub di pusat kota Seoul, dengan sedikit risih Ha Na
melangkahkan kaki memasuki klub tersebut. Suasana di dalam klub sangat ramai,
alunan musik terdengar menghentak hentak, beberapa orang hanyut dalam suasananya.
Ha Na memfokuskan matanya, mengitari tempat itu, mencari sosok Seung Ho,
akhirnya Ha Na memutuskan untuk menghampiri meja bartender dan di sanalah dia
menemukan sosok yang sedang memegang gelas minumannya. Buru buru Ha Na merebut
gelas yang sudah hampir menyentuh bibir Seung Ho.
“Kau
harus berhenti minum !” suara Ha Na berteriak untuk menyaingi suara musik.
Seung Ho menatap Ha Na dengan tatapan lasernya, tetapi beberapa detik kemudian
tatapan itu berubah.
“Ha
Na ya~ Annyeong~”, kali ini Seung Ho melakukannya dengan aegyo. “Kau tahu Ha Na
ya~ oppa sangat sedih..hik..hik..Mengapa kau baru datang ?”
Ha
Na sejenak mengabaikan Seung Ho, dia bertanya kepada bartender yang ada di
hadapannya, “Sudah berapa banyak dia minum ?”
Bartender
itu menggerakkan kepalanya, menunjuk tiga botol yang sudah kosong di samping
Seung Ho. Kau akan mati setelah ini Yang
Seung Ho ! Ha Na mengepalkan tangannya, menahan kekesalan.
Setelah
berhasil memasukkan Seung Ho ke dalam mobilnya dengan bantuan dari bartender,
Ha Na mengambil ponsel dari saku matelnya, mencoba menghubungi manajer MBLAQ,
tetapi tidak ada jawaban, begitu juga dengan ponsel Byung Hee dan Cheol Yong. Apa yang mereka lakukan saat seperti ini ? Mengapa
tidak mengangkat teleponku ? Ha Na mencoba sekali lagi menghubungi mereka,
tetapi tidak ada hasilnya. Akhirnya dengan frustasi Ha Na mengemudikan mobil
menuju apartemennya.
Sesampainya
di parkiran apartemen, sama sekali tidak ada orang yang dapat membantunya
memapah Seung Ho, tentu saja ini pukul tiga dini hari. Mau tak mau dengan susah
payah Ha Na memapah tubuh Seung Ho yang tentunya lebih besar daripada dirinya. “Aargh
namja ini ! Benar-benar seperti panda !” Ha Na mendengus kesal.
Ha
Na menghempaskan tubuh gempal Seung Ho ke sofa di apartemennya, dia sendiri
langsung menuju kulkas dan meminum segelas air putih. Ha Na dapat samar-samar
mendengar Seung Ho menggumamkan sesuatu. Ha Na duduk bersila di karpet dekat sofa
tempat Seung Ho berbaring dan mulai dari sanalah Ha Na mengetahui apa yang
selama ini dipendam Seung Ho sebagai seorang leader.
Sebegitu tidak bisanya kah kau membagi
bebanmu dengan orang lain ? dan hanya memendamnya sendirian ? Mata Ha Na
masih menatap lekat namja di hadapannya yang kini tertidur lelap. Diperhatikannya
namja itu, membuat Ha Na tersenyum terlebih lagi dark circle yang membuat Seung
Ho benar benar mirip panda. Ha Na kembali menguap, ini sudah yang ketiga
kalinya, dia pun menuju kamarnya .
Seung
Ho perlahan membuka matanya, tubuhnya terasa sangat lelah. Dia mengerjapkan
mata berkali kali, mecoba meraih kesadarannya. Setelah sepenuhnya sadar, dia
melihat ruangan tempat dia berada. Merasa asing dengan tempat itu, Seung Ho pun
bangkit berdiri dan menyadari ada sesuatu di dahinya. Dia meraih sticky notes
yang menempel di dahinya.
Maaf
aku pergi, tidak akan lama. Kalau sudah bangun minumlah segelas madu dan air
hangat agar kau merasa lebih baik. Aku akan segera kembali !
Ha Na
Membaca
notes itu tanpa sadar Seung Ho tersenyum dan mengertilah sekarang di mana
dirinya berada. Samar-samar Seung Ho mengingat apa yang terjadi semalam. Dia
mengutuk dirinya sendiri. Buru-buru Seung Ho mencari ponselnya hendak
menghubungi manajer hyeong, tapi batere ponselnya habis. Lalu Seung Ho
melangkahkan kakinya menuju pintu, dia akan pergi, tetapi kemudian
diurungkannya, dia tidak tahu apa yang akan terjadi kalau ada yang
mengenalinya. Akhirnya dia kembali duduk di sofa.
Bosan
tidak melakukan apa-apa, Seung Ho bangkit dari duduknya, menuju sebuah rak buku
yang ada di sudut ruangan. Dia mengambil sembarang buku dari rak itu yang
tentunya sebagian besar tentang psikologi manusia. Di sisi lain rak terdapat
beberapa majalah yang masih baru, Seung Ho mengambil salah satunya. “Dia sempat
juga membaca yang seperti ini”, Seung Ho bergumam sendiri.
Dia
membuka lembaran pertama majalah dan tertulis “MBLAQ benarkah akan bubar ?”
Seung Ho langsung mengembalikannya kembali ke rak buku, dia jadi kehilangan minat
bacanya. Sebuah foto yang terpajang rapi di dekat televisi menarik perhatian
Seung Ho, salah satunya foto seorang gadis kecil yang mengenakan dress merah
muda. Entah ini efek dari mabuknya semalam yang belum hilang sehingga membuatnya
berhalusinasi atau apa, tetapi yang jelas foto gadis kecil itu terasa tidak
asing bagi Seung Ho, seakan mereka pernah bertemu sebelumnya.
Saat
pikiran Seung Ho berusaha mengingat gadis kecil itu, terdengar suara pintu
dibuka, Seung Ho langsung kembali duduk di sofa. “Aaah, dinginnya”, terdengar suara Ha Na.
“Ooo…Seung
Ho ssi kau sudah bangun ?”Ha Na tersenyum melihat Seung Ho sudah duduk manis di
sofa. “Apa kau sudah minum madu dan air hangat ? Itu sangat bagus untuk
meredakan mabuk.” Seung Ho hanya menggelengkan kepalanya menjawab pertanyaan Ha
Na.
Kini
mereka berdua duduk berhadapan, di depan mereka sudah ada dua gelas madu dengan
air hangat. “Ha Na ssi…”, Seung Ho menggantung kalimatnya, bingung harus
memulai dari mana. “Eeemmm…untuk yang terjadi
semalam, sebaiknya kau lupakan saja.”
Ha
Na membulatkan matanya, tidak percaya dengan apa yang dikatakan Seung Ho. Bagaimana mungkin aku bisa melupakannya dengan
mudah. Aah dia ini ! Ha Na tidak
menanggapi perkataan Seung Ho, dia meminum madu hangatnya.
“Apa
pun yang aku lakukan semalam, aku minta maaf dan terima kasih sudah menolongku,”
Seung Ho berdiri dan berniat meninggalkan Ha Na yang masih terdiam dalam
duduknya.
Kemudian
suara Ha Na menghentikan langkah Seung Ho, “Apa kau perlu mabuk dulu untuk
menghubungiku dan menceritakan apa yang kau rasakan !” kali ini Ha Na sudah
berdiri di belakang Seung Ho.
“Seung
Ho ssi…”, suara Ha Na melunak, “Apa pun yang kau rasakan, kau bisa sedikit membaginya dengan orang lain. Aku yakin itu
akan membuat perasaan menjadi lebih baik, tidak peduli pada akhirnya akan
memberikan solusi atau tidak, setidaknya kau tidak sendirian. Akan ada yang
menemanimu untuk menghadapinya.”
Seung
Ho tersenyum mendengar perkataan Ha Na, dia
merasa mungkin tidak ada salahnya mempercayai gadis di hadapannya. Dia
juga tidak tahu, kenapa semalam gadis ini yang dihubunginya, entah ini hanya sebuah
kebetulan atau ada takdir lain yang akan menjelaskannya. “Gamsahamnida, Ha Na
ssi.”
Ha
Na pun tersenyum mendengar ucapan terima kasih Seung Ho, “Kurasa ucapan terima
kasih saja tidak cukup, agensimu harus membayarku lebih untuk yang semalam.
Akan aku kirimkan tagihannya nanti,” Ha Na membercandai Seung Ho dan mereka pun
tersenyum bersama.
No comments:
Post a Comment