Hari
pertama…
Alarmku
berdering dan dengan terpaksa aku membuka mataku yang masih menuntut haknya.
Aku menguap lebar, masih bermalas-malasan dibalik selimut dan enggan untuk
turun dari tempat tidur, sampai suara appa terdengar di depan pintu.
“Ai
Rin aa ! ppali ireona ! suara appa
terdengar dari balik pintu disertai dengan ketukan. Aku menyeret malas kakiku,
membuka pintu kamar.
“Ne,
appa, aku sudah bangun”, aku membuka pintu dengan mata yang masih menyipit,
rambutku tergerai tak karuan.
“Aigoo,
cepat mandi, setelah itu kita sarapan. Kereta kita berangkat pagi ini, kau
ingat kan ?!” kali ini perkataan appa memaksaku untuk segera bergegas.
Kami
naik KTX untuk ke Busan, perjalanan ini memakan waktu sekitar dua setengah jam,
waktu yang cukup lama. Jadi, aku putuskan untuk tidur saja. Sejak awal aku
tidak berminat dengan perjalanan ini.
Sesampainya
di stasiun Busan, kami dijemput oleh seorang ajeossi seumuran dengan appa,
begitu bertemu mereka langsung saling berpelukan erat. “Aigoo, sudah lama sekali tidak bertemu denganmu. Bagaimana kabarmu
?” ajeossi itu melepaskan pelukannya, tetapi tangannya masih santai berada di
bahu appa.
Mereka
mengobrol layaknya anak muda yang bertemu sahabat karibnya. “Aaaa…gadis cantik
ini pasti putrimu yang sering kau ceritakan”, dia menatapku dengan senyum
lembut di wajahnya.
Aku
langsung membungkukan badan, memberikan salam,”Annyeonghaseyo,Kang Ai Rin imnida”. Kupikir tadinya aku akan
diabaikan, appa dan ajeossi ini seperti memiliki
dunia mereka sendiri.
Selama perjalanan, suasana cukup
menyenangkan, Lee ajeossi orang yang cukup hangat. Sepertinya liburan ini tidak
terlalu buruk.
“Ai Rin aa~ usiamu sekarang 25 kan
?” pertanyaan Lee ajeossi yang tiba-tiba itu membuatku mengalihkan pandangan
dari menatap pemandangan.
“Ne”,
aku menjawab dengan singkat. Kenapa perasaanku tiba-tiba tidak enak.
“Ternyata seumuran dengan putraku.
Siapa tahu kalian cocok, jadi kau dan aku bisa benar-benar menjadi
keluarga.Hahhahaha”, Lee ajeossi menunjukkan perkataannya itu kepada appa.
Aku yang duduk di kursi belakang
hanya bisa menahan malu, kulirik appa, dia tersenyum menanggapi perkataan Lee
ajeossi. Aku menarik nafas panjang, semoga ini bukan modus perjodohan.
Sesampainya kami di rumah yang cukup
asri, kami sudah disambut oleh Lee ahjeomma. Aku membungkukkan badan,
memberikan salam. Rumah keluarga Lee berada di tempat yang agak tinggi sehingga
dari sini, pemandangan laut terlihat dengan sangat jelas.Ternyata yang
menyambut kami, bukan hanya Lee ahjeomma, tapi juga ada dua ekor anjing kecil
yang lucu, berwana coklat kehitaman dan putih. Mereka sangat menggemaskan
sekali.
Selesai membantu Lee ahjeomma
membereskan makan siang, aku duduk di sebuah kursi yang berada di taman depan
rumah. Angin awal musim panas bertiup lembut, memainkan anak rambutku yang
tidak terikat. Anjing kecil yang berwarna coklat kehitaman itu menghampiriku,
dia menggoyangkan ekornya, berdiri tepat di dekat kaki. Aku menggendongnya dan
mendudukkannya di sampingku, sepertinya dia menyukaiku. Sedangkan anjing yang
berwarna putih hanya berdiri tidak terlalu jauh dariku, tetapi sepertinya dia
tidak berniat mendekat.
“Aku pulang !” suara seorang namja
membuat kepalaku menoleh ke arah suara. Dari arah gerbang masuklah seorang
namja yang mengenakan kaos, celana jeans dan sebuah kacamata hitam yang
melengkapi penampilannya. Kulitnya yang putih nampak seperti berkilau ditimpa
cahaya matahari musim panas. Entah mengapa tiba-tiba jantungku berdetak lebih
cepat, aku tahu dia tampan, tapi kenapa aku harus gugup seperti ini ?
“Aaa…Shiro ya~ kau rindu ya dengan
appa ?” namja itu mengangkat anjing putih yang dipanngilnya Shiro ke dalam
pelukannya. Tunggu, tadi dia bilang apa ? Appa ? Aku tidak percaya dengan
pendengaranku.
Kini namja itu sudah berdiri di
hadapanku, menatapku dari balik kacamata hitamnya. “Eem, Agassi, sepertinya aku
pernah melihatmu. Apa kita pernah bertemu sebelumnya ? Apa kau salah seorang
fansku yang sampai rela datang kemari ?”
Mataku membulat mendengar kata
“fans”, dia pikir dia siapa. Percaya diri sekali dia, tapi tentu saja kata-kata
itu tak keluar dari mulutku, belum sempat aku menjawab pertanyaannya, Lee
ahjeomma keluar dari dalam rumah. “Jong Hyun ah !” dia berseru memanggil namja
di hadapanku. “Kenapa kau tidak bilang kalau akan pulang ?” kini Lee ahjeomma
sudah memberikan pelukan eratnya pada namja itu.
Sekarang
aku bisa melihat dengan jelas wajah namja yang dari tadi ada di hadapanku. Aku
lagi-lagi membulatkan mata, tidak percaya dengan apa yang aku lihat. Kenapa
harus dia yang menjadi putra teman appaku, kenapa dunia ini sempit sekali ?
“Ooh,
Jong Hyun ah, ini putri Tuan Kang teman dekat appamu itu”, Jong Hyun tidak
melepaskan tatapannya dariku.
“Ai
Rin imnida”, aku sedikit membungkukan
badanku. Aku berharap dia tidak ingat kalau pernah bertemu denganku. Tapi,
sepertinya harapanku sia-sia.
Tiba-tiba
saja dia berkata,”Aku sudah ingat di mana kita pernah bertemu dan bagaimana.
Aku yakin kau juga pasti mengingatnya kan ? Itu bukan kejadian yang mudah
dilupakan”, dia mengakhiri perkataannya dengan senyum yang memunculkan kedua
lekukan di pipinya.
“Kenapa
kalian masih di luar ? Ayo segera masuk !” Lee ahjeomma memanggil kami berdua.
Aku berjalan perlahan di belakang Jong Hyun. Baiklah, kejutan apalagi yang akan
aku dapatkan setelah ini ?
Ruang tamu keluarga Lee…
“Jadi,
kalian pernah bertemu sebelumnya ?” Lee ajeossi menatap Jong Hyun dan aku
bergantian. Rupanya namja ini hanya tampan wajahnya, tetapi mulutnya tidak.
Bagaimana bisa dia menceritakan pertemuan kami dengan santainya ?
“Ai
Rin aa~ kau tidak pernah bercerita kepada appa kalau pernah bertemu dengan Jong
Hyun ?” kali ini ganti appaku yang mengajukan pertanyaan.
“Itu
hanya pertemuan tidak sengaja appa, aku
menggantikan temanku datang ke konser CNBLUE karena dia sakit”, aku
berusaha membela diri.
“Jadi,
kau datang ke konser CNBLUE bukan sebagai fans ?” nampak sedikit nada kecewa
dalam pertanyaan Jong Hyun. Sebenarnya aku tidak enak kalau harus mengakuinya,
tapi mau bagaimana lagi, perkataanku sebelumnya sudah mewakili jawaban dari
pertanyaan Jong Hyun.
“Tapi,
waktu kau mendorongku karena ada anti fans yang menyerang, kukira kau
benar-benar fansku”, sepertinya Jong Hyun masih berusaha membuatku menjadi
fansnya secara tidak langsung.
“Omo,
Ai Rin pernah menyelamatkan Jong Hyun ? Waa…jeongmal
gomawo Ai Rin aa~”, Lee ahjeomma mengucapkannya dengan penuh ketulusan.
“Aaa
aniyeyo”, aku sedikit salah tingkah
menanggapi perkataan Lee ahjeomma.
“Ai
Rin ~”, Jong Hyun memanggilku. Aku menolehkan kepalaku mencari pemilik suara
itu. “Kita jalan-jalan ke pantai yuk !” Jong Hyun berkata lagi, kali ini
disertai dengan senyuman khasnya. Tentu kalau aku fansnya, aku sudah dibuatnya
pingsan.
Kami
keluar dan ternyata jalan-jalan ini tidak hanya kami berdua, kami membawa Shiro
dan Tannie, anjing peliharaan Jong Hyun. “Sepertinya Tannie menyukaimu”, Jong
Hyun berkata padaku, sementara tangannya masih sibuk memasang tali pada leher
Shiro.
Akhirnya
kami sampai di pantai dekat rumah keluarga Lee, pantainya sangat indah, pasir
berwarna putih dan berbutiran halus, deburan ombak yang menabrak karang,
memecah kesunyian diantara kami berdua. Sudah sekitar sepuluh menit kami
berjalan bersama, tapi belum ada satu pun dari kami yang mulai berbicara.
Akhirnya aku memulai dulu bertanya kepadanya, “Bagaimana kegiatanmu dengan
CNBLUE ?”
“Hmm,
berjalan dengan baik. Kami baru saja menyelesaikan tur kami di Jepang. Apa
sekarang kau mulai tertarik dengan CNBLUE dan akan jadi fans kami ?”
Kekesalanku
kembali lagi, sepertinya dia memang terobsesi menjadikanku sebagai fansnya.
“Apa, fansmu ? Yang benar saja ?” aku memutar bola mataku. Dia ini, benar-benar
percaya diri sekali !
“Fansmu
?” dia mengulang kata-kataku.”Aku bertanya kalau kau akan menjadi fans CNBLUE.
Apa kau tidak tertarik dengan CNBLUE, tapi tertarik denganku ?” kali ini dia
mencondongkan tubuhnya, menatap mataku. Aku kaget dengan sikap yang tiba-tiba
dia tunjukkan padaku dan aku pun tanpa sadar terjatuh.
Apa
yang barusan dikatakannya ? Apa dia menggodaku ? Aku buru-buru menggelengkan
kepala. Kini tangannya terjulur untuk membantuku berdiri, tapi aku menolaknya.
“Kau kenapa ? Apa kau malu mengakuinya ?” dia masih tetap saja menggodaku
dengan senyumannya.
Aku
tidak menghiraukannya lagi dan langsung berdiri, kemudian aku mencari sesuatu
di sekelilingku dan berteriak “Ke mana Shiro ?” aku menatapnya dan kami berdua
pun tersadar, anjing putih itu sudah tidak ada bersama kami.
“Ini
semua gara-gara kau !” aku bergumam menyalahkannya, kini kami berlari-lari
kecil di sepanjang pantai sambil meneriakkan nama Shiro.
Rupanya
dia mendengar gumamanku,”Kenapa jadi aku yang disalahkan ? Itu kan karena kau
tidak memegang talinya dengan erat”, dia tidak mau disalahkan.
“Kalau
kau tidak tiba-tiba, mencondongkan tubuhmu padaku, tentu saja aku tidak akan
terkejut dan melepaskan talinya !” Benar-benar hari pertama yang tidak
menyenangkan.
Ternyata
Shiro yang kami cari-cari sedang bermain bersama seorang anak laki-laki. Jong
Hyun kemudian memanggil Shiro dan anjing itu langsung menyalak dengan keras,
entah kenapa,aku merasa dia melakukan itu kepadaku.
Jong
Hyun mengangkat Shiro dan menggendongnya seperti menggendong seorang anak
perempuan,”Shiro gongju, kenapa
kau kabur seperti ini ?” Tentu saja anjing
itu tidak menjawab dan dia malah kembali menyalak kepadaku.
“Aigoo,Shiro ya~ kau ini kenapa ? Kenapa
kau menyalak kepada Ai Rin ? Apa kau cemburu ?” Anjing itu kmbali menyalak dan
menatap ke arah Jong Hyun.
Dan
entah kenapa, Tannie yang sejak tadi tenang berdiri di sampingku ikut menyalak
juga. Jadilah kini kedua anjing itu
saling beradu. Aku menghela nafas, setelah digoda oleh salah satu anggota band
paling terkenal di Korea bahkan di dunia, ditambah lagi sekarang aku dicemburui
oleh anjingnya. Benar-benar liburan yang sempurna !
Aku
berjalan meninggalkan Jong Hyun dan Shiro yang masih asyik “bercakap-cakap”.
Kemudian suara Jong Hyun menghentikan langkahku, “Kau mau ke mana Ai Rin ? Kita
kan belum melihat sunset”, dia berbicara masih tetap menggendong Shiro.
“Aku
mau pulang saja”, aku menjawab dan kembali melangkah bersama Tannie.
No comments:
Post a Comment