Tuesday, March 3, 2015

Menjadi Eomma ?! [Part 1]

Hari pertama…
            Alarmku berdering dan dengan terpaksa aku membuka mataku yang masih menuntut haknya. Aku menguap lebar, masih bermalas-malasan dibalik selimut dan enggan untuk turun dari tempat tidur, sampai suara appa terdengar di depan pintu.
            “Ai Rin aa ! ppali ireona ! suara appa terdengar dari balik pintu disertai dengan ketukan. Aku menyeret malas kakiku, membuka pintu kamar.
            “Ne, appa, aku sudah bangun”, aku membuka pintu dengan mata yang masih menyipit, rambutku tergerai tak karuan.
            “Aigoo, cepat mandi, setelah itu kita sarapan. Kereta kita berangkat pagi ini, kau ingat kan ?!” kali ini perkataan appa memaksaku untuk segera bergegas.
            Kami naik KTX untuk ke Busan, perjalanan ini memakan waktu sekitar dua setengah jam, waktu yang cukup lama. Jadi, aku putuskan untuk tidur saja. Sejak awal aku tidak berminat dengan perjalanan ini.
            Sesampainya di stasiun Busan, kami dijemput oleh seorang ajeossi seumuran dengan appa, begitu bertemu mereka langsung saling berpelukan erat. “Aigoo, sudah lama sekali tidak bertemu denganmu. Bagaimana kabarmu ?” ajeossi itu melepaskan pelukannya, tetapi tangannya masih santai berada di bahu appa.
            Mereka mengobrol layaknya anak muda yang bertemu sahabat karibnya. “Aaaa…gadis cantik ini pasti putrimu yang sering kau ceritakan”, dia menatapku dengan senyum lembut di wajahnya.
            Aku langsung membungkukan badan, memberikan salam,”Annyeonghaseyo,Kang Ai Rin imnida”. Kupikir tadinya aku akan diabaikan, appa dan ajeossi ini seperti  memiliki dunia mereka sendiri.
            Selama perjalanan, suasana cukup menyenangkan, Lee ajeossi orang yang cukup hangat. Sepertinya liburan ini tidak terlalu buruk.
            “Ai Rin aa~ usiamu sekarang 25 kan ?” pertanyaan Lee ajeossi yang tiba-tiba itu membuatku mengalihkan pandangan dari menatap pemandangan.
            Ne”, aku menjawab dengan singkat. Kenapa perasaanku tiba-tiba tidak enak.
            “Ternyata seumuran dengan putraku. Siapa tahu kalian cocok, jadi kau dan aku bisa benar-benar menjadi keluarga.Hahhahaha”, Lee ajeossi menunjukkan perkataannya itu kepada appa.
            Aku yang duduk di kursi belakang hanya bisa menahan malu, kulirik appa, dia tersenyum menanggapi perkataan Lee ajeossi. Aku menarik nafas panjang, semoga ini bukan modus perjodohan.
            Sesampainya kami di rumah yang cukup asri, kami sudah disambut oleh Lee ahjeomma. Aku membungkukkan badan, memberikan salam. Rumah keluarga Lee berada di tempat yang agak tinggi sehingga dari sini, pemandangan laut terlihat dengan sangat jelas.Ternyata yang menyambut kami, bukan hanya Lee ahjeomma, tapi juga ada dua ekor anjing kecil yang lucu, berwana coklat kehitaman dan putih. Mereka sangat menggemaskan sekali.
            Selesai membantu Lee ahjeomma membereskan makan siang, aku duduk di sebuah kursi yang berada di taman depan rumah. Angin awal musim panas bertiup lembut, memainkan anak rambutku yang tidak terikat. Anjing kecil yang berwarna coklat kehitaman itu menghampiriku, dia menggoyangkan ekornya, berdiri tepat di dekat kaki. Aku menggendongnya dan mendudukkannya di sampingku, sepertinya dia menyukaiku. Sedangkan anjing yang berwarna putih hanya berdiri tidak terlalu jauh dariku, tetapi sepertinya dia tidak berniat mendekat.
            “Aku pulang !” suara seorang namja membuat kepalaku menoleh ke arah suara. Dari arah gerbang masuklah seorang namja yang mengenakan kaos, celana jeans dan sebuah kacamata hitam yang melengkapi penampilannya. Kulitnya yang putih nampak seperti berkilau ditimpa cahaya matahari musim panas. Entah mengapa tiba-tiba jantungku berdetak lebih cepat, aku tahu dia tampan, tapi kenapa aku harus gugup seperti ini ?
            “Aaa…Shiro ya~ kau rindu ya dengan appa ?” namja itu mengangkat anjing putih yang dipanngilnya Shiro ke dalam pelukannya. Tunggu, tadi dia bilang apa ? Appa ? Aku tidak percaya dengan pendengaranku.
            Kini namja itu sudah berdiri di hadapanku, menatapku dari balik kacamata hitamnya. “Eem, Agassi, sepertinya aku pernah melihatmu. Apa kita pernah bertemu sebelumnya ? Apa kau salah seorang fansku yang sampai rela datang  kemari ?”
            Mataku membulat mendengar kata “fans”, dia pikir dia siapa. Percaya diri sekali dia, tapi tentu saja kata-kata itu tak keluar dari mulutku, belum sempat aku menjawab pertanyaannya, Lee ahjeomma keluar dari dalam rumah. “Jong Hyun ah !” dia berseru memanggil namja di hadapanku. “Kenapa kau tidak bilang kalau akan pulang ?” kini Lee ahjeomma sudah memberikan pelukan eratnya pada namja itu.
            Sekarang aku bisa melihat dengan jelas wajah namja yang dari tadi ada di hadapanku. Aku lagi-lagi membulatkan mata, tidak percaya dengan apa yang aku lihat. Kenapa harus dia yang menjadi putra teman appaku, kenapa dunia ini sempit sekali ?
            “Ooh, Jong Hyun ah, ini putri Tuan Kang teman dekat appamu itu”, Jong Hyun tidak melepaskan tatapannya dariku.
            “Ai Rin imnida”, aku sedikit membungkukan badanku. Aku berharap dia tidak ingat kalau pernah bertemu denganku. Tapi, sepertinya harapanku sia-sia.
            Tiba-tiba saja dia berkata,”Aku sudah ingat di mana kita pernah bertemu dan bagaimana. Aku yakin kau juga pasti mengingatnya kan ? Itu bukan kejadian yang mudah dilupakan”, dia mengakhiri perkataannya dengan senyum yang memunculkan kedua lekukan di pipinya.
            “Kenapa kalian masih di luar ? Ayo segera masuk !” Lee ahjeomma memanggil kami berdua. Aku berjalan perlahan di belakang Jong Hyun. Baiklah, kejutan apalagi yang akan aku dapatkan setelah  ini ?
Ruang tamu keluarga Lee…
            “Jadi, kalian pernah bertemu sebelumnya ?” Lee ajeossi menatap Jong Hyun dan aku bergantian. Rupanya namja ini hanya tampan wajahnya, tetapi mulutnya tidak. Bagaimana bisa dia menceritakan pertemuan kami dengan santainya ?
            “Ai Rin aa~ kau tidak pernah bercerita kepada appa kalau pernah bertemu dengan Jong Hyun ?” kali ini ganti appaku yang mengajukan pertanyaan.
            “Itu hanya pertemuan tidak sengaja appa, aku  menggantikan temanku datang ke konser CNBLUE karena dia sakit”, aku berusaha membela diri.
            “Jadi, kau datang ke konser CNBLUE bukan sebagai fans ?” nampak sedikit nada kecewa dalam pertanyaan Jong Hyun. Sebenarnya aku tidak enak kalau harus mengakuinya, tapi mau bagaimana lagi, perkataanku sebelumnya sudah mewakili jawaban dari pertanyaan Jong Hyun.
            “Tapi, waktu kau mendorongku karena ada anti fans yang menyerang, kukira kau benar-benar fansku”, sepertinya Jong Hyun masih berusaha membuatku menjadi fansnya secara tidak langsung.
            “Omo, Ai Rin pernah menyelamatkan Jong Hyun ? Waa…jeongmal gomawo Ai Rin aa~”, Lee ahjeomma mengucapkannya dengan penuh ketulusan.
            “Aaa aniyeyo”, aku sedikit salah tingkah menanggapi perkataan Lee ahjeomma.
            “Ai Rin ~”, Jong Hyun memanggilku. Aku menolehkan kepalaku mencari pemilik suara itu. “Kita jalan-jalan ke pantai yuk !” Jong Hyun berkata lagi, kali ini disertai dengan senyuman khasnya. Tentu kalau aku fansnya, aku sudah dibuatnya pingsan.
            Kami keluar dan ternyata jalan-jalan ini tidak hanya kami berdua, kami membawa Shiro dan Tannie, anjing peliharaan Jong Hyun. “Sepertinya Tannie menyukaimu”, Jong Hyun berkata padaku, sementara tangannya masih sibuk memasang tali pada leher Shiro.
            Akhirnya kami sampai di pantai dekat rumah keluarga Lee, pantainya sangat indah, pasir berwarna putih dan berbutiran halus, deburan ombak yang menabrak karang, memecah kesunyian diantara kami berdua. Sudah sekitar sepuluh menit kami berjalan bersama, tapi belum ada satu pun dari kami yang mulai berbicara. Akhirnya aku memulai dulu bertanya kepadanya, “Bagaimana kegiatanmu dengan CNBLUE ?”
            “Hmm, berjalan dengan baik. Kami baru saja menyelesaikan tur kami di Jepang. Apa sekarang kau mulai tertarik dengan CNBLUE dan akan jadi fans kami ?”
            Kekesalanku kembali lagi, sepertinya dia memang terobsesi menjadikanku sebagai fansnya. “Apa, fansmu ? Yang benar saja ?” aku memutar bola mataku. Dia ini, benar-benar percaya diri sekali !
            “Fansmu ?” dia mengulang kata-kataku.”Aku bertanya kalau kau akan menjadi fans CNBLUE. Apa kau tidak tertarik dengan CNBLUE, tapi tertarik denganku ?” kali ini dia mencondongkan tubuhnya, menatap mataku. Aku kaget dengan sikap yang tiba-tiba dia tunjukkan padaku dan aku pun tanpa sadar terjatuh.
            Apa yang barusan dikatakannya ? Apa dia menggodaku ? Aku buru-buru menggelengkan kepala. Kini tangannya terjulur untuk membantuku berdiri, tapi aku menolaknya. “Kau kenapa ? Apa kau malu mengakuinya ?” dia masih tetap saja menggodaku dengan senyumannya.
            Aku tidak menghiraukannya lagi dan langsung berdiri, kemudian aku mencari sesuatu di sekelilingku dan berteriak “Ke mana Shiro ?” aku menatapnya dan kami berdua pun tersadar, anjing putih itu sudah tidak ada bersama kami.
            “Ini semua gara-gara kau !” aku bergumam menyalahkannya, kini kami berlari-lari kecil di sepanjang pantai sambil meneriakkan nama Shiro.
            Rupanya dia mendengar gumamanku,”Kenapa jadi aku yang disalahkan ? Itu kan karena kau tidak memegang talinya dengan erat”, dia tidak mau disalahkan.
            “Kalau kau tidak tiba-tiba, mencondongkan tubuhmu padaku, tentu saja aku tidak akan terkejut dan melepaskan talinya !” Benar-benar hari pertama yang tidak menyenangkan.
            Ternyata Shiro yang kami cari-cari sedang bermain bersama seorang anak laki-laki. Jong Hyun kemudian memanggil Shiro dan anjing itu langsung menyalak dengan keras, entah kenapa,aku merasa dia melakukan itu kepadaku.
            Jong Hyun mengangkat Shiro dan menggendongnya seperti menggendong seorang anak perempuan,”Shiro gongju, kenapa kau  kabur seperti ini ?” Tentu saja anjing itu tidak menjawab dan dia malah kembali menyalak kepadaku.
            Aigoo,Shiro ya~ kau ini kenapa ? Kenapa kau menyalak kepada Ai Rin ? Apa kau cemburu ?” Anjing itu kmbali menyalak dan menatap ke arah Jong Hyun.
            Dan entah kenapa, Tannie yang sejak tadi tenang berdiri di sampingku ikut menyalak juga. Jadilah kini kedua anjing  itu saling beradu. Aku menghela nafas, setelah digoda oleh salah satu anggota band paling terkenal di Korea bahkan di dunia, ditambah lagi sekarang aku dicemburui oleh anjingnya. Benar-benar liburan yang sempurna !
            Aku berjalan meninggalkan Jong Hyun dan Shiro yang masih asyik “bercakap-cakap”. Kemudian suara Jong Hyun menghentikan langkahku, “Kau mau ke mana Ai Rin ? Kita kan belum melihat sunset”, dia berbicara masih tetap menggendong Shiro.
            “Aku mau pulang saja”, aku menjawab dan kembali melangkah bersama Tannie.

No comments:

Post a Comment