Wednesday, February 25, 2015

Always be with You [Part 2]

Casts :
MBLAQ Member : Seungho, G.O, Mir
Ha Na
Note : terinspirasi dari drama Kill Me Heal Me dan sedang sangat keracunan MBLAQ :P

Di sebuah rumah sakit terkenal di Gangnam, Seoul.
                  Ha Na membolak-balik file yang baru saja diterimanya, membacanya kembali dengan lebih teliti, memastikan tidak ada informasi yang terlewatkan. Dia baru saja menerima transferan klien yang sebelumnya berkonsultasi dengan subaenimnya. Sebenarnya dia enggan menerima klien tersebut, bayangkan saja, dia mendapat tiga transferan klien sekaligus. Dia sudah mengajukan protes, tetapi hasilnya nihil dan yang paling membuatnya enggan adalah ketiga kliennya itu seorang idol.
          “Sebelumnya kau pernah bekerja sama dengan idol kan di acara variety show itu ? Jadi saya rasa kali ini juga tidak akan masalah”, sunbaenimnya menyemangati.
          “Usia kalian tidak berbeda jauh, jadi saya rasa mereka akan merasa nyaman berkonsultasi denganmu. Kau juga sudah berhasil menangani beberapa klien yang berusia muda”, kali ini professor yang diasisteni Ha Na bersuara.
       Perkataan perkataan sunbaenim dan profesornya terus terngiang di telinga Ha Na, setidaknya itu memberinya motivasi. Ha Na menarik nafas panjang dan menghembuskannya perlahan, saat itu juga telepon di mejanya berdering.
            “Yeoboseyo…Ne..Tolong antarkan mereka ke ruangan saya. Ne…gamsahamnida”, Ha Na menutup telepon dan sekali lagi menarik nafas, menenangkan diri. Bertemu pertama kali dengan klien selalu menjadi pengalaman yang mendebarkan bagi Ha Na karena walaupun dia sudah tahu kondisi klien dari file yang diberikan, tetapi menatap dan berbicara langsung dengan mereka akan sangat terasa berbeda sekali.
      Terdengar suara pintu diketuk, kemudian masuklah seorang perawat diikuti tiga orang laki laki berpakaian kasual tetapi tetap terlihat stylish, khas seorang idol. Kemudian Ha Na dan ketiga orang tersebut saling menyapa dan sedikit membungkukan badan. Perawat yang mengantarkan pun pamit dengan wajah sedikit memerah, Ha Na yang menyadari hal itu hanya berusaha menahan senyum. Selalu saja ada orang yang dibuat terpesona dengan idol,Ha Na bergumam dalam hati.
          “Anjeoseyo…”, Ha Na mempersilakan tamunya untuk duduk. Mereka bertiga pun duduk berhadapan dengan Ha Na. “Cheoneun Im Ha Na imnida”, Ha Na memperkenalkan diri.
          “Ooo..oooo…jadi Anda Dokter Ha Na yang di televisi itu ?!” seru dari salah satu laki laki yang sejak tadi memasang senyum seperti anak kecil. “Aku sangat menyukai acara itu dan…Anda benar benar cantik”, kali ini dia memuji tak lupa tetap dengan senyumannya. Sementara laki laki yang disebelahnya hanya tersenyum seperti menahan malu dengan sikap maknae mereka.
             “Gamsahamnida, Cheolyong ssi .”
            Cheol Yong tersenyum senang dengan tanggapan yang diberikan Ha Na. “Gamsahamnida Dokter Ha Na, kau juga memanggilku dengan nama asliku bukan dengan Mir.”
          Ha Na lagi lagi tersenyum melihat tingkah maknae itu yang terlihat sangat bersemangat. “Jwaesongeyo, Dokter Ha Na, dia selalu seperti ini kalau terlalu bersemangat”, kali ini Byung Hee yang bicara.
         “Gwaenchanayo Byung Hee ssi…Emm, tidak masalah kan kalau saya memanggilmu seperti itu ?”
          “Tidak apa apa, terasa lebih hangat dipanggil dengan nama asli.”
       Selanjutnya Ha Na mengalihkan pandangannya kepada seorang laki laki yang sejak tadi belum bersuara. Ha Na merasakan seperti ada awan hitam yang menyelimuti kepala laki laki bernama Yang Seung Ho itu. Sesaat kemudian mata mereka bertemu, kemudian dia berbicara, “Dokter Ha Na, kita pernah bertemu sebelumnya. Apa Anda ingat ?” Seung Ho bertanya langsung tanpa basa basi dan itulah dirinya, selalu bicara apa adanya.
           Ha Na diam sejenak, nampak berpikir, tetapi ingatannya tidak memberikan informasi pernah bertemu dengan Seung Ho.”Mianhaeyo, tapi sepertinya ini pertama kali kita bertemu”, Ha Na berkata perlahan, takut Seung Ho tersinggung karena biasanya orang tidak akan pernah melupakan momen bertemu dengan idol.
      “Di minimarket, Anda yang membayari belanjaan saya karena dompet saya tertinggal”, Seung Ho melanjutkan kata katanya.
      “Jadi , itu Anda Seung Ho ssi ?!” Ha Na tidak percaya dengan ucapan Seung Ho ketika mengingat pertemuan mereka beberapa minggu lalu. “Mianhaeyo waktu itu saya tidak sadar bertemu dengan Anda.”
        “Jadi, Dokter Ha Na yang membayari belanjaan sebanyak itu ! Ini benar benar takdir !” lagi lagi Cheol Yong berseru. “Wah kami berhutang padamu Dokter dan kau tahu Dokter, sesampainya di dorm, Seung Ho hyeong mengomel karena ada orang yang memanggilnya ajeossi.”
       Seketika itu juga wajah Seung Ho dan Ha Na berubah menjadi merah. Byung Hee yang menyadari keadaan ini berusaha menghentikan Cheol Yong yang masih terus bercerita, “Tapi, memang waktu itu Seung Ho hyeong pergi dengan wajah yang masih ditumbuhi bulu, jadi wajar saja seperti ajeossi..Hehehehe”, Cheol Yong masih asyik dengan ceritanya sampai matanya bertemu dengan Seung Ho dan tatapan tajam Seung Ho membuatnya tutup mulut.
        Ha Na yang menahan malu karena telah memanggil orang yang hanya lebih tua tiga tahun darinya dengan sebutan ajeossi hanya mengulum senyum dan berkata dalam hati Sepertinya akan ada banyak kejutan jika bersama mereka.Ha Na kembali tersenyum melihat maknae yang langsung diam seketika setelah mendapat tatapan laser dari sang leader.
        “Baiklah, sepertinya akan sangat menyenangkan bersama kalian. Sesuai yang dijadwalkan agensi kalian, pertemuan rutin kita hari Sabtu,tapi jika ada hal yang ingin kalian ceritakan, jangan malu untuk menghubungiku setiap saat. Dan satu hal lagi, kalian tidak perlu memanggilku dengan sebutan “Dokter”, panggil saja Ha Na.”
            “Kalau aku memanggilmu Ha Na nuna bagaimana ? Kau kan setahun lebih tua dariku.”
          Tetapi belum sempat Ha Na menjawab, Seung Ho sudah bersuara terlebih dahulu,”Cheol Yong aa…”, tak lupa dengan tatapan lasernya yang langsung bisa mengendalikan maknae.
                “Tapi, sepertinya aku lebih aman memangilmu Ha Na ssi saja. Hehehe..”
 

Always be with You [Part 1]



Casts :
MBLAQ Member : Seungho, G.O, Mir
Ha Na
Note : terinspirasi dari drama Kill Me Heal Me dan sedang sangat keracunan MBLAQ :p

Ha Na memarkir mobilnya tepat di depan sebuah minimarket, dia melirik jam di pergelangan tangannya, pukul 22.30. Sudah cukup larut, tetapi pemandangan kota Seoul seperti tidak pernah tertidur,walaupun ini musim dingin, lampu lampu jalan dan toko masih banyak yang berkelip warna warni.
        Sekarang Ha Na sudah mengantri di kasir,keranjang belanjaanya dipenuhi dengan berbagai snack ringan dan beberapa kaleng jus. Sementara itu, di depannya berdiri seorang pria yang berpakaian serba hitam yang tampaknya sedang mencari sesuatu.
          “Aaah…jangan jangan tertinggal !” pria itu bergumam kesal. Sementara itu kasir kembali mngulangi jumlah harga belanjaan yang harus dibayar.
         “Jwesongeyo, berapa jumlahnya ?” Ha Na sekarang sudah berdiri sejajar dengan pria berpakaian hitam  itu. Kasir pun kembali menyebutkan harga yang harus dibayar.
            “Baiklah, tolong sekalian dihitung dengan belanjaan ini ya”, Ha Na meletakkan barang belajaannya di meja kasir.
            Pria itu langsung mengarahkan pandangannya kepada Ha Na, entah apa maksud pandangannya, Ha Na sedikit menangkap ketidaksenangan di sana. Tetapi, sesaat kemudian, dia berkata,”Gamsahamnida..jeongmal jwesongeyo karena sepertinya dompetku tertinggal.”
           “Aaa…aniyo, gwaenchanayo ajeossi”, Ha Na tersenyum membalas ucapan terima kasih pria tersebut dan dia langsung meninggalkan minimarket setelah sebelumnya bertukar anggukan kepala dengan Ha Na.
            Ketika keluar dari minimarket, sebuah suara menghentikan kaki Ha Na, “Agassi..”
          Hana menolehkan kepalanya, ternyata pria berpakaian hitam tadi menunggunya, kemudian membuka masker yang menutupi sebagian wajahnya.
        Apa yang dia lakukan ? tanya Ha Na dalam hati. Pria itu berjalan mendekati Ha Na, kini jarak mereka hanya satu lengan dan Ha Na dapat melihat dengan jelas wajah pria itu.
          “Ada apa ajeossi ?” Ha Na akhirnya bertanya.
         Pria itu tampak sedikit kebingungan dengan pertanyaan Ha Na. “Aaa…saya hanya ingin mengucapkan terima kasih sekali lagi untuk bantuan Anda.”
          “Aaa…gwaenchanayo”, Ha Na menjawabnya disertai dengan senyuman. “Maaf, saya pergi dulu”, Ha Na pamit dan berjalan menuju mobilnya.
         Pria itu memandang kepergian Ha Na sekilas, kemudian berjalan berlawanan arah. Apa aku sudah tidak terkenal lagi ? Reaksinya biasa saja ketika melihatku. Dan apa..dia memanggilku ajeossi ? Apa aku terlihat setua itu ? Hhhhh…dia menghembuskan nafasnya dengan sedikit kesal.

Our Fate



Bandara Incheon, awal musim semi
            Musim semi sudah menghampiri, tetapi sisa musim dingin masih meninggalkan jejaknya. Seorang gadis tengah asyik memainkan ponselnya sambil menunggu seseorang. Tudung hodie yang dia gunakan dibiarkan menutupi kepala dan rambut ikalnya. Tiba tiba ada seseorang yang tanpa sengaja menyenggolnya dan membuat dia kehilangan keseimbangan dan ponsel yang dipegangnya pun berseluncur di atas lantai bandara.
            Untung saja tangan orang yang menabraknya dengan sigap meraih tubuh si gadis sebelum dia terjatuh ke lantai “Jwesongeyo..Gwaenchanayo ?”
            Gadis itu menatap beberapa detik wajah di hadapannya sebelum akhirnya mengangguk dan menjawab, “Gwaenchanaseyo, ajeossi.”
            Laki laki yang menabrak tadi mengambil ponsel yang masih tergeletak di lantai “Ini ponselmu”, dia mengulurkannya pada gadis di hadapannya yang masih terpaku. Gadis ini merasa sangat familiar dengan wajah laki laki di hadapannya, tetapi dia sama sekali tidak ingat siapa.
            “O..gamsahamnida.”
            “Jwesonghamnida, Anda Park Kang Min ssi ?” Tanya gadis yang masih mengenakan tudung hodie di kepalanya kepada seorang laki laki berusia akhir dua puluhan.
            “Ne, tetapi maaf Anda siapa ?” kini laki laki itu kembali bertanya.
            Gadis itu hanya menunjuk papan nama yang dipegang. Laki laki di hadapannya bingung, akhirnya gadis itu berkata, “Saya Ayumi Aprilia, trainee yang mendapat tugas dari perusahaan untuk memperdalam bahasa Korea.”
            Kang Min kaget melihat gadis yang dijemputnya, gadis yang sekarang berada di hadapannya tidak terlihat seperti seseorang berusia dua puluhan tahun.
            “Kang Min ssi, sampai kapan kita akan berada di sini ? Saya masih belum terbiasa dengan udara Korea.” Kang Min tersadar, musim semi memang sudah berlalu, tetapi angin musim dingin masih bertiup lembut dan gadis di hadapannya sudah mulai terlihat kedingingan.
            “Aa..jwesongeyo Ayumi ssi. Mari lewat sini.”
            Ayumi akan menghabiskan waktu selama 6 bulan di Korea Selatan untuk memperdalam Bahasa Korea karena perusahaan tempat dia bekerja adalah perusahaan joint venture antara Indonesia dan Korea Selatan di bidang kosmetik. Selain memperdalam bahasa korea, dia juga diminta untuk melakukan studi banding langsung di perusahaan Korea tersebut.
2 bulan kemudian….
            “Aa..aku meninggalkan ponselku di ruangan tadi. Kau duluan saja, nanti aku akan menyusul”, Ayumi berkata kepada Kang Min.
            Ayumi kembali masuk ke ruangan yang tadi digunakan untuk meeting, tapi sepertinya ruangan ini akan kembali digunakan. Buru buru dia mencari ponselnya dan menuju ke parkiran menemui Kang Min.
            Di perjalanan, ponselnya berdering, Ayumi mengerutkan dahi, nama dan nomor yang tertera di layar ponselnya sama sekali tidak dia kenal. Kemudian dia mengangkatnya dan tidak mengenali siapa yang menelepon.
            “Kang Min ssi, sepertinya ponselku tertukar”, dengan hati hati Ayumi berkata kepada laki laki di sampingnya. Walaupun termasuk orang yang sabar menghadapi Ayumi, Kang Min tipe orang yang tidak dapat menyembunyikan ekspresi wajahnya.
            “Kalau begitu, coba kau telepon ponselmu”, jawab Kang Min dengan nada datar.
            Ayumi mencoba menelepon ponselnya, dan cukup lama dia mendengar nada sambung, tetapi belum ada yang mengangkatnya. “FNC Academy ? Ne, algesseumnida. Gamsahamnida.”
Di depan FNC Academy
            “Kang Min ssi, kau pergi saja tidak perlu menunggu. Nanti aku akan pulang naik taksi.”
            “Baiklah, dan jangan sampai terlambat untuk datang di pertemuan nanti malam”, mobil pun melaju meninggalkan Ayumi yang berdiri  menatap gedung FNC Academy.
            Setelah melalui pemeriksaan yang cukup ketat di pintu masuk, akhirnya Ayumi sampai di lobi. Awalnya, dia disangka fans yang ingin bertemu dengan idolanya ketika dia menyebutkan dengan siapa dia ingin bertemu. Di Korea hal yang sangat umum seorang fans mengejar bahkan mengikuti ke manapun idolanya pergi.
            Ayumi kembali menelepon ponselnya dan memberitahukan kalau dia sudah di lobi, ternyata si penerima telepon memintanya untuk datang ke ruang latihan. Perlahan Ayumi membuka pintu ruang latihan, di situ dia melihat sekelompok laki laki yang sedang berlatih memainkan sebuah lagu. Ayumi harus menunggu sekitar tiga menit sampai mereka menyelesaikan lagunya.
            “Ayumi ssi..”, sapa sebuah suara membuat Ayumi refleks berdiri dan membungkukan badan.
            “Jwesongeyo, sebenarnya itu kesalahanku yang salah mengambil ponselmu”, kali ini suara yang lain berkata.
            “Oh..gwaenchanayo. yeogi, ponselnya”, Ayumi menyerahkan ponsel yang sedari tadi berada di tangannya.
            “Rasanya kita pernah bertemu,” orang yang pertama tadi kembali berkata dan menatap Ayumi berusaha mengingat ingat. “Apa kau salah seorang fans kami atau pernah datang ke konser kami?”
            “Sorry ?” itu jawaban yang refleks keluar dari mulut Ayumi. Memang keempat laki laki di hadapannya ini terkenal, tetapi bukan berarti dia pasti fans dari mereka kan ? ini insiden yang tidak sengaja, percaya diri sekali dia. Suasan menjadi agak canggung sedikit.
            “Ooh..Jwesongeyo, ini ponselmu. Maafkan aku karena salah mengambil ponselmu”, orang yang kedua kembali datang menghampiri sambil membawakan ponsel Ayumi. “Maaf sudah membuatmu harus datang kemari. Oia, namamu Ayumi ?”
            “Ne..Ayumi imnida. Mannaseo bangapseumnida.”
            “Walaupun mungkin kau tahu siapa kami, tapi aku Jung Yong Hwa, ini Lee Jong Hyun, Kang Min Hyuk dan Lee Jung Sin”, Yong Hwa mengulurkan tangannya kepada Ayumi.
Summer Holidays
            Ayumi dan Kang Min diminta untuk menemani ke rumah salah seorang kenalan atasannya di Busan. Setelah sekian lama mengobrol, mereka berdua keluar izin untuk jalan jalan ke pantai. Ketika akan keluar dari rumah tersebut. “Neo ! mwo haeyo ?” sebuah suara menghentikan langkah kaki Ayumi. Selama beberapa detik keduanya saling berpandangan.
            “Annyeonghaseyo !” Kang Min yang menyadari kecanggungan ini langsung menyapa dan membungkukan badan, kemudian menyenggol tubuh Ayumi dan membuat Ayumi mengeluarkan sapaannya.
            “Neo, benar benar fansku ?” kali ini mata Jong Hyun menatap ke arah Ayumi.
            Buru buru Ayumi menjawab “Aaa..Aniyo..Choneun…” Ayumi tidak habis pikir kenapa dia harus bertemu lagi dengan orang itu di sini. Jangan jangan ini rumahnya ?
            “Kami sedang mengunjungi kenalan atasan kami yang kebetulan pemilik rumah ini. Kau tinggal di sini ?” Kang Mi menjawab tujuan mereka datang kemari.
            “Ne majayo. Oo..eodigayo ?”
            “Kami akan ke pantai”, jawab Ayumi singkat berharap laki laki di hadapannya ini membiarkan begitu saja mereka pergi, tapi sepertinya harapan Ayumi tidak terkabul.
            “Jakkamanyo, aku ikut dengan kalian.”
Di pantai..
            Ayumi merasa canggung berjalan diantara dua laki laki yang dia sama sekali belum begitu mengenalnya. “Sepertinya kalian sudah saling mengenal ?” Kang Mi bertanya memecah kesunyian diantara mereka.
           “Aku sudah tiga kali ini bertemu dengannya, jadi aku menyangka dia benar benar fansku”, jawab Jong Hyun.
            “Tiga kali ?” Ayumi bertanya dan mengerutkan dahinya. “Aku rasa, ini yang kedua kalinya aku bertemu denganmu Jong Hyun ssi.”
            “Kau tidak ingat saat pertama kali bertemu denganku ?” Jong Hyun bertanya dan menatap Ayumi, yang ditatap hanya menggelengkan kepala. “Waktu di bandara. Apa kau benar benar tidak mengingatnya ?”
            Ayumi diam, Nampak berusaha mengingat. Jong Hyun menjadi tidak sabar, “Aku orang yang tidak sengaja menabrakmu dan kau panggil ajeossi. Masih tidak ingat ?”
            “Aaaaa…,” akhirnya Ayumi bisa mengingatnya. “Jadi, itu kau ?” Ayumi tampak tersenyum menahan malu.
            “Tapi, kenapa kau memanggilnya ajeossi, Ayumi ssi ?” Kang Min bertanya.
            “Waktu itu mungkin Jong Hyun ssi lupa bercukur. Jadi, di mataku dia terlihat seperti ajeossi”, Ayumi menjelaskan dengan malu malu.
           “Dan, aku terima saja dipanggil ajeossi karena kukira dia anak SMA”, Jong Hyun dan Kang Min pun tertawa. “Ja, kalau begitu daripada kau memanggilku dengan sebutan ajeossi, bagaimana kalau kau panggil aku oppa saja.”
            “Kenapa aku harus memanggilmu oppa ?” Ayumi balik bertanya dengan nada tidak menerima.
            “Memangnya kau kelahiran tahun berapa ?” Jong Hyun bertanya dengan nada ingin tahu.
            “Aku 90-line yang artinya aku seumuran denganmu !” Ayumi berbicara dengan nada penuh penekanan. Dia memang sering dikira lebih muda daripada usianya tetapi terkadang hal itu bisa jadi sangat mengganggunya.
            “Jeongmalyo ?”
            “Pertama kali bertemu dengannya pun, aku kira dia lebih muda lima tahun dari usianya. Jadi, jangan tertipu dengan penampilannya, Jong Hyun ssi”, Kang Min berbicara dan tersenyum ke arah Ayumi.
            “Kau lahir bulan apa ?” Jong Hyun tetap tidak mau kalah, berharap dirinya lahir lebih dulu daripada Ayumi.
            “Agustus.”
            “Kalau begitu, aku tidak salah memintamu memanggilku oppa, karena aku memang lebih tua daripada dirimu”, Jong Hyun merasa memperoleh kemenangannya.
            “Kalau tidak salah, kau lahir bulan Mei kan ? Itu hanya berbeda 3 bulan !” Ayumi tetap tidak terima.
            “Sudahlah, bagaimana kalau kalian menjadi chingu saja”, Kang Min berusaha menengahi.
            “Baiklah..chingu ya~”, Jong Hyun mengulurkan tangannya. “Dan jangan panggil aku ajeossi lagi ! Arasseoyo ?”
            Ayumi membalas uluran tangan Jong Hyun dan mengangguk. Langit pun semakin jingga dan matahari perlahan seperti ditelan lautan.