Wednesday, February 25, 2015

Our Fate



Bandara Incheon, awal musim semi
            Musim semi sudah menghampiri, tetapi sisa musim dingin masih meninggalkan jejaknya. Seorang gadis tengah asyik memainkan ponselnya sambil menunggu seseorang. Tudung hodie yang dia gunakan dibiarkan menutupi kepala dan rambut ikalnya. Tiba tiba ada seseorang yang tanpa sengaja menyenggolnya dan membuat dia kehilangan keseimbangan dan ponsel yang dipegangnya pun berseluncur di atas lantai bandara.
            Untung saja tangan orang yang menabraknya dengan sigap meraih tubuh si gadis sebelum dia terjatuh ke lantai “Jwesongeyo..Gwaenchanayo ?”
            Gadis itu menatap beberapa detik wajah di hadapannya sebelum akhirnya mengangguk dan menjawab, “Gwaenchanaseyo, ajeossi.”
            Laki laki yang menabrak tadi mengambil ponsel yang masih tergeletak di lantai “Ini ponselmu”, dia mengulurkannya pada gadis di hadapannya yang masih terpaku. Gadis ini merasa sangat familiar dengan wajah laki laki di hadapannya, tetapi dia sama sekali tidak ingat siapa.
            “O..gamsahamnida.”
            “Jwesonghamnida, Anda Park Kang Min ssi ?” Tanya gadis yang masih mengenakan tudung hodie di kepalanya kepada seorang laki laki berusia akhir dua puluhan.
            “Ne, tetapi maaf Anda siapa ?” kini laki laki itu kembali bertanya.
            Gadis itu hanya menunjuk papan nama yang dipegang. Laki laki di hadapannya bingung, akhirnya gadis itu berkata, “Saya Ayumi Aprilia, trainee yang mendapat tugas dari perusahaan untuk memperdalam bahasa Korea.”
            Kang Min kaget melihat gadis yang dijemputnya, gadis yang sekarang berada di hadapannya tidak terlihat seperti seseorang berusia dua puluhan tahun.
            “Kang Min ssi, sampai kapan kita akan berada di sini ? Saya masih belum terbiasa dengan udara Korea.” Kang Min tersadar, musim semi memang sudah berlalu, tetapi angin musim dingin masih bertiup lembut dan gadis di hadapannya sudah mulai terlihat kedingingan.
            “Aa..jwesongeyo Ayumi ssi. Mari lewat sini.”
            Ayumi akan menghabiskan waktu selama 6 bulan di Korea Selatan untuk memperdalam Bahasa Korea karena perusahaan tempat dia bekerja adalah perusahaan joint venture antara Indonesia dan Korea Selatan di bidang kosmetik. Selain memperdalam bahasa korea, dia juga diminta untuk melakukan studi banding langsung di perusahaan Korea tersebut.
2 bulan kemudian….
            “Aa..aku meninggalkan ponselku di ruangan tadi. Kau duluan saja, nanti aku akan menyusul”, Ayumi berkata kepada Kang Min.
            Ayumi kembali masuk ke ruangan yang tadi digunakan untuk meeting, tapi sepertinya ruangan ini akan kembali digunakan. Buru buru dia mencari ponselnya dan menuju ke parkiran menemui Kang Min.
            Di perjalanan, ponselnya berdering, Ayumi mengerutkan dahi, nama dan nomor yang tertera di layar ponselnya sama sekali tidak dia kenal. Kemudian dia mengangkatnya dan tidak mengenali siapa yang menelepon.
            “Kang Min ssi, sepertinya ponselku tertukar”, dengan hati hati Ayumi berkata kepada laki laki di sampingnya. Walaupun termasuk orang yang sabar menghadapi Ayumi, Kang Min tipe orang yang tidak dapat menyembunyikan ekspresi wajahnya.
            “Kalau begitu, coba kau telepon ponselmu”, jawab Kang Min dengan nada datar.
            Ayumi mencoba menelepon ponselnya, dan cukup lama dia mendengar nada sambung, tetapi belum ada yang mengangkatnya. “FNC Academy ? Ne, algesseumnida. Gamsahamnida.”
Di depan FNC Academy
            “Kang Min ssi, kau pergi saja tidak perlu menunggu. Nanti aku akan pulang naik taksi.”
            “Baiklah, dan jangan sampai terlambat untuk datang di pertemuan nanti malam”, mobil pun melaju meninggalkan Ayumi yang berdiri  menatap gedung FNC Academy.
            Setelah melalui pemeriksaan yang cukup ketat di pintu masuk, akhirnya Ayumi sampai di lobi. Awalnya, dia disangka fans yang ingin bertemu dengan idolanya ketika dia menyebutkan dengan siapa dia ingin bertemu. Di Korea hal yang sangat umum seorang fans mengejar bahkan mengikuti ke manapun idolanya pergi.
            Ayumi kembali menelepon ponselnya dan memberitahukan kalau dia sudah di lobi, ternyata si penerima telepon memintanya untuk datang ke ruang latihan. Perlahan Ayumi membuka pintu ruang latihan, di situ dia melihat sekelompok laki laki yang sedang berlatih memainkan sebuah lagu. Ayumi harus menunggu sekitar tiga menit sampai mereka menyelesaikan lagunya.
            “Ayumi ssi..”, sapa sebuah suara membuat Ayumi refleks berdiri dan membungkukan badan.
            “Jwesongeyo, sebenarnya itu kesalahanku yang salah mengambil ponselmu”, kali ini suara yang lain berkata.
            “Oh..gwaenchanayo. yeogi, ponselnya”, Ayumi menyerahkan ponsel yang sedari tadi berada di tangannya.
            “Rasanya kita pernah bertemu,” orang yang pertama tadi kembali berkata dan menatap Ayumi berusaha mengingat ingat. “Apa kau salah seorang fans kami atau pernah datang ke konser kami?”
            “Sorry ?” itu jawaban yang refleks keluar dari mulut Ayumi. Memang keempat laki laki di hadapannya ini terkenal, tetapi bukan berarti dia pasti fans dari mereka kan ? ini insiden yang tidak sengaja, percaya diri sekali dia. Suasan menjadi agak canggung sedikit.
            “Ooh..Jwesongeyo, ini ponselmu. Maafkan aku karena salah mengambil ponselmu”, orang yang kedua kembali datang menghampiri sambil membawakan ponsel Ayumi. “Maaf sudah membuatmu harus datang kemari. Oia, namamu Ayumi ?”
            “Ne..Ayumi imnida. Mannaseo bangapseumnida.”
            “Walaupun mungkin kau tahu siapa kami, tapi aku Jung Yong Hwa, ini Lee Jong Hyun, Kang Min Hyuk dan Lee Jung Sin”, Yong Hwa mengulurkan tangannya kepada Ayumi.
Summer Holidays
            Ayumi dan Kang Min diminta untuk menemani ke rumah salah seorang kenalan atasannya di Busan. Setelah sekian lama mengobrol, mereka berdua keluar izin untuk jalan jalan ke pantai. Ketika akan keluar dari rumah tersebut. “Neo ! mwo haeyo ?” sebuah suara menghentikan langkah kaki Ayumi. Selama beberapa detik keduanya saling berpandangan.
            “Annyeonghaseyo !” Kang Min yang menyadari kecanggungan ini langsung menyapa dan membungkukan badan, kemudian menyenggol tubuh Ayumi dan membuat Ayumi mengeluarkan sapaannya.
            “Neo, benar benar fansku ?” kali ini mata Jong Hyun menatap ke arah Ayumi.
            Buru buru Ayumi menjawab “Aaa..Aniyo..Choneun…” Ayumi tidak habis pikir kenapa dia harus bertemu lagi dengan orang itu di sini. Jangan jangan ini rumahnya ?
            “Kami sedang mengunjungi kenalan atasan kami yang kebetulan pemilik rumah ini. Kau tinggal di sini ?” Kang Mi menjawab tujuan mereka datang kemari.
            “Ne majayo. Oo..eodigayo ?”
            “Kami akan ke pantai”, jawab Ayumi singkat berharap laki laki di hadapannya ini membiarkan begitu saja mereka pergi, tapi sepertinya harapan Ayumi tidak terkabul.
            “Jakkamanyo, aku ikut dengan kalian.”
Di pantai..
            Ayumi merasa canggung berjalan diantara dua laki laki yang dia sama sekali belum begitu mengenalnya. “Sepertinya kalian sudah saling mengenal ?” Kang Mi bertanya memecah kesunyian diantara mereka.
           “Aku sudah tiga kali ini bertemu dengannya, jadi aku menyangka dia benar benar fansku”, jawab Jong Hyun.
            “Tiga kali ?” Ayumi bertanya dan mengerutkan dahinya. “Aku rasa, ini yang kedua kalinya aku bertemu denganmu Jong Hyun ssi.”
            “Kau tidak ingat saat pertama kali bertemu denganku ?” Jong Hyun bertanya dan menatap Ayumi, yang ditatap hanya menggelengkan kepala. “Waktu di bandara. Apa kau benar benar tidak mengingatnya ?”
            Ayumi diam, Nampak berusaha mengingat. Jong Hyun menjadi tidak sabar, “Aku orang yang tidak sengaja menabrakmu dan kau panggil ajeossi. Masih tidak ingat ?”
            “Aaaaa…,” akhirnya Ayumi bisa mengingatnya. “Jadi, itu kau ?” Ayumi tampak tersenyum menahan malu.
            “Tapi, kenapa kau memanggilnya ajeossi, Ayumi ssi ?” Kang Min bertanya.
            “Waktu itu mungkin Jong Hyun ssi lupa bercukur. Jadi, di mataku dia terlihat seperti ajeossi”, Ayumi menjelaskan dengan malu malu.
           “Dan, aku terima saja dipanggil ajeossi karena kukira dia anak SMA”, Jong Hyun dan Kang Min pun tertawa. “Ja, kalau begitu daripada kau memanggilku dengan sebutan ajeossi, bagaimana kalau kau panggil aku oppa saja.”
            “Kenapa aku harus memanggilmu oppa ?” Ayumi balik bertanya dengan nada tidak menerima.
            “Memangnya kau kelahiran tahun berapa ?” Jong Hyun bertanya dengan nada ingin tahu.
            “Aku 90-line yang artinya aku seumuran denganmu !” Ayumi berbicara dengan nada penuh penekanan. Dia memang sering dikira lebih muda daripada usianya tetapi terkadang hal itu bisa jadi sangat mengganggunya.
            “Jeongmalyo ?”
            “Pertama kali bertemu dengannya pun, aku kira dia lebih muda lima tahun dari usianya. Jadi, jangan tertipu dengan penampilannya, Jong Hyun ssi”, Kang Min berbicara dan tersenyum ke arah Ayumi.
            “Kau lahir bulan apa ?” Jong Hyun tetap tidak mau kalah, berharap dirinya lahir lebih dulu daripada Ayumi.
            “Agustus.”
            “Kalau begitu, aku tidak salah memintamu memanggilku oppa, karena aku memang lebih tua daripada dirimu”, Jong Hyun merasa memperoleh kemenangannya.
            “Kalau tidak salah, kau lahir bulan Mei kan ? Itu hanya berbeda 3 bulan !” Ayumi tetap tidak terima.
            “Sudahlah, bagaimana kalau kalian menjadi chingu saja”, Kang Min berusaha menengahi.
            “Baiklah..chingu ya~”, Jong Hyun mengulurkan tangannya. “Dan jangan panggil aku ajeossi lagi ! Arasseoyo ?”
            Ayumi membalas uluran tangan Jong Hyun dan mengangguk. Langit pun semakin jingga dan matahari perlahan seperti ditelan lautan.


           

No comments:

Post a Comment